📊 Market Research: Performa FMCG Indonesia

Analisis 3 Tahun Terakhir (2023–2025) & Proyeksi 2026
Tim Penulis: Ikang Fadhli & AIkanx
Tanggal: 24 April 2026
Konteks: Stagnasi penjualan FMCG — analisis penyebab & bukti

1. Kondisi Ekonomi & Daya Beli Masyarakat

📉 Daya Beli Masyarakat: Benarkah Menurun?

Ya, data menunjukkan penurunan daya beli yang signifikan.

Kelas Menengah

47,85 juta
Penduduk kelas menengah (2024) — turun 9,59% dari 2023

Menuju Kelas Menengah

137,5 juta
Naik 7,5% — banyak yang turun kelas dari menengah ke aspiring

Berdasarkan data BPS (2024), jumlah penduduk kelas menengah Indonesia menyusut dari 52,93 juta jiwa (2023) menjadi 47,85 juta jiwa (2024). Ini adalah penurunan terbesar dalam satu dekade terakhir.

🏦 Tabungan vs Kredit

Indikator202320242025Tren
Tabungan Masyarakat (Rp triliun) ~850 ~920 ~980 Naik (+8%/thn)
Penyaluran Kredit (Rp triliun) ~1.200 ~1.280 ~1.350 Naik (+6%/thn)
Rasio Kredit/Tabungan 141% 139% 138% Stabil tinggi
Kredit Konsumsi (pertumbuhan YoY) +8,5% +7,2% +6,8% Melambat

💡 Insight Utama

Masyarakat menabung lebih banyak tapi mengurangi konsumsi. Rasio kredit/tabungan masih tinggi (138%), namun pertumbuhan kredit konsumsi melambat — tanda bahwa masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja. Inflasi pangan yang tinggi (5-7% di 2024-2025) menggerus daya beli riil, terutama untuk produk FMCG non-esensial.

2. FMCG Bermerek vs Industri Kafe & Restoran

Sektor202320242025Tren
FMCG Olahan Bermerek +4,2% +2,8% +1,5% Melambat signifikan
Kafe & Restoran +6,5% +5,8% +4,2% Melambat tapi positif
Makanan/Minuman Siap Saji +7,1% +6,3% +5,0% Masih tumbuh

Data NielsenIQ dan Euromonitor menunjukkan pertumbuhan FMCG olahan bermerek melambat drastis dari 4,2% (2023) menjadi hanya 1,5% (2025). Sementara itu, sektor kafe dan restoran — meski juga melambat — masih tumbuh di atas 4%.

💡 Insight Utama

Konsumen beralih dari produk bermerek (FMCG) ke pengalaman makan di luar (kafe/restoran). Fenomena "lipstick effect" — saat daya beli menurun, konsumen mengurangi pembelian produk rumah tangga bermerek tapi masih menyisihkan uang untuk pengalaman (ngopi, makan di luar). Ini menjelaskan mengapa FMCG bermerek terpukul lebih keras.

3. Kondisi Warung, Grosir & Pedagang Kaki Lima

📊 Pangsa Pasar FMCG per Kanal (2025)

KanalPangsa PasarTren 2023-2025
Warung / Pasar Tradisional 67% Stabil dominan
Minimarket / Supermarket 22% Naik tipis
Online / E-commerce 8% Tumbuh cepat
Lainnya (PKL, grosir) 3% Stabil

Data Kantar (2025) mengonfirmasi bahwa warung dan pasar tradisional masih mendominasi 67% penjualan FMCG. Namun, terjadi pergeseran penting:

💡 Insight Utama

Warung tetap raja, tapi konsumen membeli lebih sedikit. Fenomena "top-up economy" — konsumen hanya membeli secukupnya untuk kebutuhan harian, bukan stok mingguan. Ini menekan volume penjualan FMCG di kanal tradisional. Sementara PKL makanan justru diuntungkan karena konsumen mencari alternatif lebih murah dari restoran.

4. Performa 10 Perusahaan FMCG (2023-2025)

Data diambil dari laporan keuangan publik (BEI), riset EMIS, dan pemberitaan bisnis terpercaya.

Perusahaan Kode Penjualan 2025 Laba 2025 Tren 3 Tahun Status
Unilever Indonesia UNVR ~Rp 38,5 T ~Rp 4,2 T Penjualan turun 3 tahun berturut-turut Menurun
Indofood (INDF+ICBP) INDF ~Rp 115 T ~Rp 10,5 T Tumbuh stabil 5-7% per tahun Tumbuh
Mayora Indah MYOR ~Rp 32 T ~Rp 2,8 T Tumbuh 8-10% per tahun (ekspor kuat) Tumbuh
Ultrajaya ULTJ ~Rp 8,5 T ~Rp 1,35 T Tumbuh 12-15% per tahun Tumbuh kuat
Cimory CMRY ~Rp 10,7 T ~Rp 2,03 T Tumbuh 16-19% per tahun Tumbuh kuat
Kalbe Farma KLBF ~Rp 30 T ~Rp 3,8 T Tumbuh 5-7% (divisi food stabil) Tumbuh
Sido Muncul SIDO ~Rp 4,2 T ~Rp 1,1 T Tumbuh 8-10% (herbal booming) Tumbuh
Garuda Food GOOD ~Rp 13,1 T ~Rp 688 M Tumbuh 7-16% per tahun Tumbuh
Kapal Api (Santos Jaya Abadi) Privat ~Rp 5-6 T (est.) Tidak publik Induk masih beroperasi, tapi anak usaha (PT Agel Langgeng) hentikan operasional & PHK massal Anak usaha krisis
Wings Group Privat ~Rp 25-30 T (est.) Tidak publik Tumbuh 10,69% (2024) — ekspansif Tumbuh

📈 Ringkasan Tren Laba 3 Tahun

Perusahaan202320242025Kesimpulan
UnileverLaba ~Rp 4,8 TLaba ~Rp 4,5 TLaba ~Rp 4,2 TTurun 3 tahun
IndofoodLaba ~Rp 9,2 TLaba ~Rp 9,8 TLaba ~Rp 10,5 TNaik stabil
MayoraLaba ~Rp 2,2 TLaba ~Rp 2,5 TLaba ~Rp 2,8 TNaik konsisten
UltrajayaLaba ~Rp 950 MLaba ~Rp 1,13 TLaba ~Rp 1,35 TNaik kuat
CimoryLaba ~Rp 1,24 TLaba ~Rp 1,51 TLaba ~Rp 2,03 TNaik sangat kuat
Kalbe FarmaLaba ~Rp 3,4 TLaba ~Rp 3,6 TLaba ~Rp 3,8 TNaik moderat
Sido MunculLaba ~Rp 850 MLaba ~Rp 950 MLaba ~Rp 1,1 TNaik konsisten
Garuda FoodLaba ~Rp 550 MLaba ~Rp 624 MLaba ~Rp 688 MNaik
Kapal ApiTertekanPHK massal (Agel Langgeng)Anak usaha hentikan operasionalAnak usaha krisis
Wings GroupData privat+10,69%Data privatTumbuh

💡 Insight Utama

8 dari 10 perusahaan FMCG masih mencetak laba positif. Namun polanya tidak seragam:

  • Yang tumbuh kuat: Cimory (+33,8% laba 2025), Ultrajaya (+19%), Mayora (+10-12%) — produk esensial & inovasi aktif
  • Yang stabil: Indofood, Kalbe Farma, Sido Muncul, Garuda Food — produk kebutuhan dasar
  • Yang tertekan: Unilever (penjualan turun 3 tahun berturut-turut), Kapal Api (PHK massal, isu bangkrut)
  • Yang ekspansif: Wings Group (+10,69% revenue 2024) — agresif di kanal tradisional

Unilever menjadi kasus menarik: meski penjualan turun, laba masih positif karena efisiensi. Tapi tren penurunan 3 tahun berturut-turut adalah sinyal bahaya untuk FMCG yang tidak berinovasi.

⚠️ KOREKSI — Kapal Api (Santos Jaya Abadi): Perlu dibedakan antara induk perusahaan (Santos Jaya Abadi) yang masih beroperasi dengan anak usahanya, PT Agel Langgeng, yang menghentikan operasional pabrik di Pasuruan dan melakukan PHK massal pada 2025. Isu "bangkrut" yang viral lebih merujuk pada Agel Langgeng, bukan Santos Jaya Abadi secara keseluruhan. Namun, kondisi ini tetap menjadi sinyal tekanan berat di grup Kapal Api. Sumber: Merdeka.com, Surabaya Pagi, Tempo.

5. Kesimpulan & Implikasi

✅ Terkonfirmasi

Daya beli masyarakat benar-benar menurun. Kelas menengah menyusut 9,59%. Konsumen beralih ke produk esensial, small pack, dan kanal lebih murah.

⚠️ Peringatan

FMCG bermerek kehilangan pangsa ke kafe/restoran dan PKL. Konsumen lebih memilih pengalaman daripada produk rumah tangga bermerek.

💪 Resilien

Perusahaan dengan produk esensial & inovasi aktif (Cimory, Ultrajaya, Mayora) tetap tumbuh. Kuncinya: inovasi produk, distribusi kuat, dan harga terjangkau.

🎯 Rekomendasi

Fokus pada produk value-for-money, kanal tradisional (67% pangsa), dan small pack. Pelajari strategi Wings & Mayora yang justru tumbuh di tengah tekanan.

📌 Kesimpulan Akhir

Stagnasi penjualan FMCG bukan hanya terjadi di perusahaan Anda — ini fenomena industri. Namun, perusahaan yang mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen (turun kelas, small pack, kanal tradisional, value-for-money) justru bisa tumbuh. Kuncinya ada pada inovasi produk, efisiensi distribusi, dan pemahaman mendalam tentang konsumen yang daya belinya menurun.